Terbongkarnya Cara Curang Perajin Gula Kelapa di Sukabumi

Sukabumi – Ulah oknum perajin gula kelapa di Sukabumi bikin geger, untuk menambah berat timbangan mereka mengisi bata merah ke dalam balutan gula. Hal itu terungkap dari sebuah video yang viral di jagat maya.

Hasil penelusuran, peristiwa itu terjadi di Kampung Lebak Sarom, Desa/Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. Persoalan itu pun sudah mendapat perhatian dari aparat pemerintahan setempat hingga kepolisian.

Camat Tegalbuleud Supendi membenarkan kabar itu. Hari ini pihaknya bersama, kepolisian, kepala desa dan kepala dusun akan mendatangi lokasi untuk mengecek kebenaran kabar tersebut.

“Saat ini sedang diselidiki oleh kepolisian, Forum Komunikasi Kecamatan sudah ke sana namun hari ini kita ke sana lagi kita akan korek keterangan dan ingin tahu sejauh mana sebenarnya peristiwa itu,” kata Supendi kepada detikJabar melalui sambungan telepon.

Supendi menjelaskan, kawasan Kampung Lebak Sarom memang dikenal sebagai sentra perajin gula kelapa. Apa yang ada di dalam video menurutnya merugikan perajin yang lain.

“Kampung itu memang sentra gula dari kelapa, memang kawasan di sana banyak perajinnya. Perbuatan oknum itu berimbas kepada yang lain,” tutur Supendi.

Untuk alur produksi dari perajin kemudian dijual ke pengepul. Setelah itu, oleh pengepul dijual ke pabrik-pabrik. Peristiwa yang terekam dalam video menurut Supendi terjadi pada Selasa (20/2/2024).

“Itu biasanya ada pengepul, dari pengepul ditarik ke pabrik jadi bukan untuk konsumsi masyarakat karena masyarakat di sana justru menggunakan gula kawung atau gula aren. Gula kelapa jarang dikonsumsi masyarakat hanya dijual, karena ada tengkulak dari sana ke pabrik,” jelasnya.

“Kita dengan pak kades dan pak kadus mau ke lokasi lagi. Kita nggak gegabah ingin sejelasnya,” imbuh dia menambahkan.

Terpisah, Bhabinkamtibmas Polsek tegalbuleud Aipda Catur Widiantoro membenarkan kabar tersebut. Pihaknya akan kembali ke lokasi untuk mengecek kabar tersebut. “Hari ini kami akan kembali ke lokasi, untuk mengecek kabar tersebut bersama Forkopimcam,” singkatnya.

Dalam video yang beredar, terlihat gula kelapa berserakan, perekam sengaja memperlihatkan satu persatu kondisi bata merah yang seolah sengaja dibalut menggunakan gula kelapa tersebut.

“Perbuatan jelema bangsa kieu, mentak kabina-bina. Buktina kieu tah. Di Oploskeun, buktina kapanggih ayeunamah (Perbuatan orang sampai seperti ini, keterlaluan. Buktinya begini, dioplos buktinya dapat sekarang),” suara laki-laki perekam video seperti dilihat detikJabar, Rabu (21/2/2024).

Sesekali perekam video memperlihatkan tiap gula kelapa yang ada. Di dalam gula terlihat potongan bata merah. Benda itu sebelumnya berada di dalam balutan gula kelapa.

Sementara itu Kades Tegalbuleud Ramdan Arif Firmansyah mengungkap peristiwa itu ternyata merupakan akal-akalan oknum perajin gula. Ramdan memastikan hal serupa tidak akan terjadi kembali dan membuat jera para oknum perajin nakal.

“Diberikan bata merah itu untuk menambah berat timbangan, untuk harga memang tergantung cetakan. Kalau satu biasanya 5 kilogram jadi lebih berat timbangannnya. Kadang satu kilogram itu Rp 10 ribu, kadang Rp 15 ribu. Kalau sebelum puasa naik lagi harganya,” kata Ramdan kepada detikJabar, Rabu (21/2/2024).

Menurut Ramdan ulah nakal tersebut sudah sering dilakukan oleh oknum perajin gula. Namun untuk kasus terakhir ini terekam kamera warganet dan viral di media sosial.

“Kejadian itu sering, bahkan pernah diisi pakai batu baterai, supaya memperberat timbangan. Aparat desa dan kecamatan juga kepolisian mau ngecek hari ini. Sebelumnya sering ada, tapi nggak sampai ke media sosial, merugikan petani lain,” ujarnya.

Ramdan menjelaskan kondisi perkampungan memang sentra pembuatan gula kelapa dan gula aren. Di lokasi memang tumbuh pohon kelapa dan pohon aren, petani menyadap kemudian dibuat oleh perajin dan dijual ke borsom atau pengepul.

“Kampung itu memang kawasan kebun kelapa sampai ke wilayah Puncak Jengkol. Jadi itu petani, penyadap lalu dijual ke borsom. Borsom ini memberikan modal ke petani, setornya ke borsom,” ungkap dia.

Terkait peristiwa yang viral, Ramdan telah mendapat kabar bahwa peristiwa itu bakal diselesaikan kekeluargaan antara pihak borsom dan petani perajin.

“Sebenarnya belum tahu jelas, karena kan memang baru kemarin, kabarnya secara kekeluargaan mau diganti dengan gula lagi. Borsom, atau pengepul dengan penjualnya petani mau diganti katanya,” pungkas Ramdan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*