RI Dikucilkan AS, Anak Buah Luhut Bongkar Alasannya..

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan saat menyampaikan update Kerja Sama Indonesia - Tiongkok. (Tangkapan Layar Youtube Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI)

Amerika Serikat (AS) dikabarkan belum memberikan kredit pajak kepada Indonesia melalui aturan baru IRA atau Inflation Reduction Rate untuk produk nikel yang dipakai dalam pembuatan baterai EV di AS. Hal tersebut disinyalir dikarenakan Indonesia belum memiliki kesepakatan dagang atau Free Trade Agreement (FTA) dengan AS.

Seperti yang dikatakan oleh Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Kementerian Koordinasi bidang Kemaritiman dan Investasi, Septian Hario Seto. Dia menyatakan bahwa salah satu alasan Indonesia belum mendapatkan IRA dari AS adalah karena Indonesia belum memiliki FTA dengan AS.

“Karena kita belum punya trade deal dengan Amerika,” jelasnya usai konferensi pers, di Gedung Kemenko Marves, Senin (10/4/2023).

Adapun dia menekankan bahwa Indonesia bukan satu-satunya negara yang belum memiliki FTA dengan AS. Seto menjelaskan bahwa negara yang sudah memiliki FTA dengan AS baru 17 negara.

“Kan banyak juga kan cuma ada 16 plus Jepang, ada 17 negara yang punya FTA dengan Amerika. Jadi banyak sekali negara yang tidak punya FTA kalau tidak punya berarti tidak eligible untuk IRA,” tegasnya.

Seperti diketahui, Indonesia juga terlihat semakin dekat dengan China, khususnya berkenaan dengan ajakan pemerintah Indonesia untuk terus membuka peluang kerjasama dalam pengembangan baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/VE) di Indonesia.

Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) justru mengucilkan Indonesia dengan tidak memberikan paket subsidi hijau bagi mineral dari Indonesia yakni nikel untuk baterai kendaraan listrik di AS.

Pemerintah AS akan menerbitkan pedoman kredit pajak bagi produsen baterai dan EV di bawah Undang-Undang Pengurangan Inflasi dalam beberapa minggu kedepan. Undang-undang ini mencakup US$ 370 miliar dalam subsidi untuk teknologi energi bersih.

Adapun dia menekankan bahwa Indonesia bukan satu-satunya negara yang belum memiliki FTA dengan AS. Seto menjelaskan bahwa negara yang sudah memiliki FTA dengan AS baru 17 negara.

“Kan banyak juga kan cuma ada 16 plus Jepang, ada 17 negara yang punya FTA dengan Amerika. Jadi banyak sekali negara yang tidak punya FTA kalau tidak punya berarti tidak eligible untuk IRA,” tegasnya.

Seperti diketahui, Indonesia juga terlihat semakin dekat dengan China, khususnya berkenaan dengan ajakan pemerintah Indonesia untuk terus membuka peluang kerjasama dalam pengembangan baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/VE) di Indonesia.

Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) justru mengucilkan Indonesia dengan tidak memberikan paket subsidi hijau bagi mineral dari Indonesia yakni nikel untuk baterai kendaraan listrik di AS.

Pemerintah AS akan menerbitkan pedoman kredit pajak bagi produsen baterai dan EV di bawah Undang-Undang Pengurangan Inflasi dalam beberapa minggu kedepan. Undang-undang ini mencakup US$ 370 miliar dalam subsidi untuk teknologi energi bersih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*